KLATEN — Penjagaan ketat masih dilakukan polisi di dua lokasi tempat penyergapan warga yang terduga teroris, Kamis 24 Juni. Belasan anggota Polres Klaten dengan senjata lengkap berjaga di sekitar lokasi tersebut.
Di rumah kos milik Wagiman, 50, Dusun Cungkrungan, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara warga masih dilarang mendekat ke lokasi kejadian. Polisi tetap menyeterilkan rumah kos dengan radius sekitar 30 meter.
Kondisi tidak jauh beda di rumah Mulyono, 50, di Kampung Girimulo, Kelurahan Gergunung, Klaten Utara. Sejak penangkapan pemilik rumah beserta tiga orang lainnya penjagaan semakin diperketat.
Informasi yang dihimpun di Mabes Polri menyebutkan bahwa Abdullah Sonata dan kawanannya yang
dibekuk di Klaten Rabu 23 Juni adalah teroris kelas wahid. Komplotan Sonata memiliki rencana besar untuk melancarkan serangan dalam waktu dekat.
“Dari beberapa barang bukti yang kami sita, mereka merencanakan melakukan pengeboman pada 1 Juli bertepatan HUT Bhayangkara di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok,” ucap seorang sumber di kalangan anti teror.
Sumber tersebut mengatakan bahwa serangan tersebut menggunakan model serangan bom lempar dan bom sepatu. Artinya, bom tersebut dibuat lalu diletakkan ke dalam sepatu, lalu ditaruh di lokasi upacara. “Kami menemukan pcb (printed circuit board) dan switching bom di TKP,” ucap polisi yang tidak mau namanya dikorankan tersebut.
Selain itu, hasil interogasi sementara, Abdullah Sonata juga merencanakan aksi pengeboman dengan target Kedubes Denmark di Jakarta. Rencana tersebut terkait dengan soal kartun Nabi Muhammad yang sedang marak di Denmark.
Di samping itu, dari penangkapan tersebut diketahui bahwa salah satu tersangka adalah ahli perakit bom yang belajar langsung dari Dr Azahari. Dia adalah Amin alias Shobirin alias Sogir.
Nah, selain itu sumber tersebut mengatakan bahwa penangkapan Abdullah Sonata kali ini merupakan awal untuk menangkap tokoh teroris lainnya yang lebih besar.
Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, Marwoto Soeto mengatakan, teroris yang tewas tertembak Yuli alias Yuli Karsono alias Seno adalah pecatan Pusdishub AD dengan pangkat terakhir prada. Sebab, pada penggerebekan lalu, Desus menemukan kartu anggota TNI di dalam saku celananya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Yuli adalah tersangka penembakan dua anggota Polres Purworejo yang ditemukan tewas di ruang penjagaan pos polisi Kenteng Rejo, Purworejo Jawa Tengah pada 10 April lalu. Berdasarkan informasi yang dihimpun, selain ahli amunisi dan merakit senjata api, Yuli juga jago menembak.
Apa ada polisi lain yang menjadi korban Yuli selain dua polisi di Purworejo? “Saya belum tahu,” katanya.
Yang jelas, kata Marwoto, kelompok Abdullah Cs adalah kelompok teroris yang masih erat hubungannya dengan komplotan yang dibongkar di Aceh, Medan bahkan penggerebekan terakhir yang dilakukan Densus 88 di Cikampek dan Cawang beberapa waktu lalu. (jpnn)

