Si Pahit Pare yang Ampuh Cegah HIV/AIDS dan Atasi Diabetes

Pare, siapa yang tak kenal buah pahit satu ini? Pare biasa dimasak menjadi sayur. Namun, bagi beberapa orang yang tak tahan dengan rasa pahitnya, pare seakan menjadi sayur yang dihindari.

tanaman pare

Sekarang sudah mulai banyak home insdustri yang kreatif untuk mengolah pare agar digemari masyarakat. Pare diubah menjadi kripik pare yang renyah dan gurih tanpa rasa pahit sedikitpun. Dibalik rasanya yang super pahit itu, tahukah Anda bahwa Pare menyimpan khasiat yang luar biasa dalam menyembuhkan penyakit HIV/AIDS dan diabetes??? Simak penjelasan berikut ini.

Continue reading

Mengapa Obat Generik Lebih Murah???

Saya yakin Anda pernah mendengar kata “Obat Generik”. Nama ini sering disebut oleh dokter saat memberikan resep kepada pasien atau melalui sosialisasi kementrian kesehatan di layar televisi Anda. Lalu apa sih obat generik itu?? dan kenapa lebih murah dibanding obat paten? Simak penjelasannya berikut ini.

OGB

Obat generik biasanya bersimbol OGB (Obat Generik Berlogo) dan dijual dengan harga yang lebih murah dibanding obat paten. Padahal kualitas dan kemujaraban untuk menyembuhkan penyakit tertentu bisa dibilang sama. Obat paten diperoleh melalui riset dan uji coba klinik secara klinik yang memerlukan waktu lama sekitar 5-10 tahun. Biaya riset untuk menghasilkan obat paten bisa mencapai 500-700 juta US$. Tentu saja biaya yang sangat fantastis ini tidak lantas dilupakan begitu saja oleh sang perusahaan farmasi dalam menentukan harga obat. jadi. itulah penyebab obat paten sangatlah mahal. Masa paten obat tersebut berkisar 15 tahun untuk menutup biaya riset dan mendapatkan keuntungan bagi perusahaan farmasi.

Obat paten yang sudah habis masa patennya tersebut selanjutnya diproduksi oleh perusahaan farmasi lain dengan nama dagang yang berbeda atau juga bisa dalam bentuk obat generik. Obat generik tidak lagi dibebani dengan biaya pemasaran dan biaya riset yang mahal tersebut. Saat ini pemerintah sudah mulai menetapkan harga obat paten yaitu maksimal 3x harga obat generik. Pemerintah melalui Menteri Kesehatan telah mengeluarkan peraturan dalam penggunaan obat generik di instansi kesehatan pemerintah. Seluruh instansi kesehatan milik pemerintah wajib menggunakan obat generik ini. Selain harganya yang murah tentu saja karena kualitasnya yang tidak kalah dengan obat paten. Pasien berhak memilih menggunakan obat generik ataupun paten. Namun saat ini tampaknya penggunaan obat paten mulai marak kembali di instansi tersebut karena peraturan yang sudah mulai longgar. Bukan rahasia lagi kalau sekarang biaya berobat sangatlah mahal dan sulit dijangkau oleh kalangan menengah kebawah. Jadi, kenapa harus pusing memikirkan harga obat yang mahal itu?? Kita bisa menjaga tubuh kita tetap bugar sehingga tidak lagi perlu keluar ongkos untuk berobat. Semoga Anda selalu sehat.

Terapi Air Putih Pencegah Kanker

Mendengar kata kanker pasti sudah terpintas di benak kita suatu penyakit yang sangat mematikan. Yupz, tentu saja anda benar. Kanker merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh menurunnya sistem imunitas atau kekebalan tubuh. Paparan radikal bebas setiap hari menyebabkan tubuh menjadi mudah sakit.

air

Lalu apa hubungannya air putih dengan hal itu??? mari kita simak penjelasan berikut. Continue reading

Renaissance, Jaman Cerahnya Ilmu Pengetahuan

Tidak  mudah menentukan batas yang jelas tentang akhir zaman pertengahan mulai berubah menjadi zaman modern. Masa peralihan kedua zaman ini sering disebut sebagai zaman Renaissance. Secara etimologi, renaissance berarti “kelahiran kembali” atau “kebangkitan kembali”. Kata renaissance sebenarnya berasal dari kata dalam bahasa Perancis, yaitu kata “re” (lagi, kembali) dan kata “naissance” (kelahiran), sedangkan dalam bahasa latin, istilah Renaissance berasal dari kata “nascentia”, “nascor”, atau “natus” yang setara artinya dengan kelahiran, lahir, atau dilahirkan. Istilah ini pertama kali digunakan oleh ahli sejarah Michelet di tahun 1855 dan Buckhardt di tahun 1860 untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual yang terjadi di Eropa, khususnya di Italia sepanjang abad ke 15 dan ke 16. Continue reading

AIR BERSIH UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KESEHATAN MANUSIA

Air merupakan salah satu sumber daya alam terpenting bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup di bumi. Semua siklus biogeokimia melibatkan air di salah satu titik, sebab air membentuk lingkungan cair di dalam semua makhluk hidup. Namun, air juga bergerak dalam siklusnya sendiri. Setiap tahun, sekitar setengah miliar km3 air laut menguap ke udara sehingga terciptalah hujan yang memungkinkan semua kehidupan di darat bertahan (Burnie, 2005: 17).

Dibandingkan dengan jumlah total air yang terlibat dalam siklus air, proporsi air yang dikandung oleh makhluk hidup sangat kecil. Air dalam tubuh keseluruhan populasi manusia di dunia mencapai sekitar 200 juta m3 yang kira-kira sama dengan debit air yang mengaliri Amazon selama 20 menit. Tapi jika dibandingkan dengan nitrogen dan unsur lainnya, air tidak bertahan lama di dalam jaringan makhluk hidup setelah masuk ke dalam tubuh. Semakin kecil ukuran tubuh makhluk hidup maka semakin cepat pergantian itu terjadi seseorang maka semakin cepat pergantian itu terjadi Sekitar 60% dari tubuh orang dewasa adalah air, sedangkan untuk bayi dan anak-anak mencapai 95%. Oleh karenanya manusia selalu membutuhkan minum untuk menjaga keseimbangan kadar air dalam tubuhnya (Burnie, 2005: 18).

“Mens sana in corporesano”, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat serta “lebih baik mencegah daripada mengobati’. Salah satu kutipan tersebut menunjukkan bahwasannya betapa berharganya kesehatan. Minum air putih yang bersih dan aman merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas kesehatan seseorang. Air putih yang dikonsumsi mempunyai manfaat yang luar biasa bagi tubuh. Mengkonsumsi air dalam jumlah yang ideal akan membuat tubuh menjadi sehat dan tidak mudah terserang penyakit. Jika kebutuhan dasar ini tidak dapat terpenuhi secara optimal maka banyak masalah kesehatan yang akan muncul di kemudian hari.

Namun aktivitas dan mobilitas yang tinggi dari seseorang di era modern ini membuat manusia sering lupa dengan kebutuhan dasarnya, salah satunya minum. Rutinitas tinggi seringkali menjadi alasan yang menjebak seseorang untuk tidak sempat meluangkan waktu untuk minum. Padahal minum tidak menyita banyak waktu.

Minum air putih 8 gelas sehari nampaknya belum menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya air bagi kesehatan serta kurang tersedianya air bersih untuk konsumsi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Intitut Pertanian Bogor, sebanyak 51,1% remaja mempunyai pengetahuan yang rendah akan air munum, sedangkan 55,8% masyarakat secara umum belum mengetahui kegunaan minum air.

Namun, belakangan ini air bersih nampaknya menjadi masalah yang cukup urgen bagi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, negara yang notabene merupakan negara perairan nyatanya belum mampu menyediakan air bersih yang cukup bagi masyarakatnya. Padahal data menunjukkan bahwa 2/3 bagian dari NKRI merupakan perairan, baik air dalam maupun air permukaan. Setiap musim kemarau tiba, banyak daerah di Indonesia yang mengalami kekeringan dan mengalami kesulitan air bersih. Bahkan air untuk kebutuhan memasak, mandi, cuci dan kakus saja mereka harus membelinya dengan harga yang relatif mahal. Di beberapa wilayah yang terpencil air dianggap sebagai sesuatu yang berharga karena untuk mendapatkan air mereka harus mengambilnya dari satu-satunya sumber mata air yang jaraknya berkilo-kilo dari tempat tinggalnya. Namun, ketika musim hujan tiba kehadiran air malah berpotensi menjadi bencana, yaitu banjir. Oleh karena itu pengelolaan sumber daya air mempunyai peran yang sangat penting untuk dapat mengakomodasi masalah kebutuhan air bersih.

Forum Air Dunia II (World Water Forum) di Den Haag pada Maret 2000 lalu sudah memprediksikan Indonesia termasuk salah satu Negara yang akan mengalami krisis air bersih pada tahun 2025 (Thioritz, 2010; 38-39). Penyebabnya adalah kelemahan dalam hal manajemen dan kontrol pemerintah terhadap air bersih untuk konsumsi masyarakat. Hal tersebut digantikan oleh kehadiran perusahaan air minum. Perusahaan-perusahaan swasta tersebut mengkomersialkan air bersih dengan nama air mineral yang sekarang banyak menjamur di berbagai wilayah di Indonesia.

Banyaknya air di Indonesia ternyata banyak terkontaminasi oleh pencemar akibat dari aktivitas penduduk yang jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Hakikatnya, air harus diolah agar dapat dikonsumsi. Air yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi malah akan mengakibatkan munculnya beragam masalah lain, yaitu penyakit. Air yang kotor dan terkontaminasi berpotensi menjadi media penyebaran penyakit misalnya diare dan demam berdarah. Laporan Riskesdas 2007 menunjukkan diare sebagai penyebab 31% kematian anak usia antara 1 bulan hingga 1 tahun dan 25 % kematian anak usia antara satu sampai empat tahun (UNICEF Indonesia, 2012: 1). Continue reading

SUKSESI TUMBUHAN

Ekosistem di alam ini memiliki pola penyesuaian untuk mempertahankan stabilitasnya yaitu dengan mengalami suatu perubahan. Pada prinsipnya semua bentuk ekosistem akan mengalami perubahan bentuk baik struktur maupun fungsinya dalam perjalanan waktu. Beberapa perubahan mungkin hanya merupakan fluktuasi lokal yang kecil sifatnya,sehingga tidak memberikan arti yang penting. Perubahan lainnya mungkin sangat besar/kuat sehingga mempengaruhi sistem secara keseluruhan.

Dalam suatu komunitas yang terdiri dari beberapa populasi bersifat dinamis dalam interaksinya yang berarti dalam ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa. Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan disebut suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis).

Komunitas tumbuhan merupakan salah satu komunitas yang mudah untuk  berubah untuk mencapai kestabilan. Kestabilan tatanan komunitas tumbuhan tentu saja akan menambah keberagaman dalam ekosistem dan menjaga keteraturan rantai makanan karena tumbuhan merupakan produsen.

Suksesi tumbuhan akan membantu menyeimbangkan iklim alam lokal maupun innternasional. Misal adanya kegiatan penebangan hutan secara besar-besaran akan mengakibatkan struktur komunitas tumbuhan di hutan berubah. Sebenarnya tanpa campur tangan manusia untuk mereboisasi sekalipun hutan akan kembali stabil dan mencapai tahap klimaks. Akan tetapi dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menumbuhkan kembali hutan yang telah gundul tersebut secara alami. Sudah merupakan suatu sifat alamiah bahwa tumbuhan perintis yang muncul pertama kali pada tahap awal terjadinya suksesi merupakan tanda bahwa hutan baru akan kembali terbentuk.

  1. Konsep Suksesi Tumbuhan

Dinamika di alam adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari. Segala sesuatu yang sekarang ada sebenarnya hanyalah merupakan suatu stadium dari deretan proses perubahan yang tidak pernah ada akhirnya. Keadaan keseimbangan yang tampaknya begitu mantap, hanyalah bersifat relatif karena keadaan itu segera akan berubah jika salah satu dari komponennya mengalami perubahan. Secara umum proses perubahan, meliputi komposisi spesies, struktur komunitas, kimia tanah, dan sifat-sifat iklim mikro, yang terjadi secara perlahan-perlahan, baik akibat gangguan alami maupun akibat tindakan manusia terhadap biologi biasa disebut dengan suksesi (Indrawan dan Primack, 1998: 28). Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah mencapai keadaan yang seimbang (homeostatis). Suksesi tidak hanya terjadi di daratan, tetapi terjadi pula di perairan misalnya di danau dan rawa. Danau dan rawa yang telah tua akan mengalami pendangkalan oleh tanah yang terbawa oleh air. Danau yang telah tua ini disebut eutrofik.

Salah satu struktur komunitas yang bisa dan dengan mudah berubah yaitu tumbuhan atau tumbuhan. Lucy E. Braun (1956) mengatakan bahwa tumbuhan merupakan sistem yang dinamik, sebentar menunjukkan pergantian yang kompleks kemudian nampak tenang, dan bila dilihat hubungan dengan habitatnya, akan nampak jelas pergantiannya setelah mencapai keseimbangan. Pengamatan yang lama pada pergantian tumbuhan di alam menghasilkan konsep suksesi.

Suksesi tumbuhan menurut Odum adalah: urutan proses pergantian komunitas tumbuhan di dalam satu kesatuan habitat, sedangkan menurut Salisbury adalah kecenderungan kompetitif setiap individu dalam setiap fase perkembangan sampai mencapai klimaks, dan menurut Clements adalah proses alami dengan terjadinya koloni yang bergantian, biasanya dari koloni sederhana ke yang lebih kompleks. Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa suksesi tumbuhan merupakan proses alami pergantian tumbuhan dalam suatu habitat dan terdapat kecenderungan kompetitif setiap individu dan bersifat progresif hingga mencapai klimaks dari komunitas tumbuhan yang sederhana menjadi kompleks.

Sebagai contohnya, sebuah halaman  rumput yang tampak teratur sebagai sebuah lingkungan yang stabil sebenarnya tidak berubah karena rumputnya terus dipotong dengan cermat dan seluruh halaman dipelihara secara teratur. Jika dibiarkan dalam kondisi alamiah, semak-semak akan tumbuh memenuhi halaman. Tumbuhan yang  besar akan tumbuh dan mematikan rumput dan dalam waktu singkat halaman itu akan menjadi semak belukar. Di daerah beriklim sedang, belukar ini akan terus bertumbuh menjadi hutan. Setelah itu pertumbuhannya akan terhenti karena hutan merupakan titik klimaks dari perubahan struktur tumbuhan (Pollock, 1994: 34). Tahap klimaks ini akan menghasilkan suatu komunitas klimaks, dalam hal ini hutan, yang terdiri dari sejumlah kelompok spesies yang kurang lebih stabil dan susunannya berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain. Terjadinya suksesi disebabkan oleh banyak faktor, beberapa diantaranya yaitu:

  1. Iklim

Tumbuhan tidak akan dapat teratur dengan adanya variasi yang lebar dalam waktu yang lama. Fluktuasi keadaan iklim kadang-kadang membawa akibat rusaknya tumbuhan baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu tempat yang baru (kosong) berkembang menjadi lebih baik (daya adaptasinya besar) dan mengubah kondisi iklim. Kekeringan, hujan salju/air dan kilat seringkali membawa keadaan yang tidak menguntungkan pada tumbuhan.

 

Gambar1.  Iklim yang Tidak Stabil Mengakibatkan Kebakaran Hutan

  1. Topografi

Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain erosi dan pengendapan (denudasi). Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan akhirnya proses suksesi dimulai. Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu tempat tanah diendapkan melalui pengendapan (denudasi) sehingga menutupi tumbuhan pyang ada dan merusakkannya. Kerusakan tumbuhan menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut.

Gambar 2. Erosi Tanah yang Menyebabkan terjadinya Kerusakan Tumbuhan

 

 

  1. Biotik

Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan tumbuhan.

Gambar 3. Penyakit Tumbuhan

 

Selain faktor yang menyebabkan terjadinya suksesi ada pula faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya proses suksesi, yaitu:

  1. Luasnya habitat asal yang mengalami kerusakan.
  2. Jenis-jenis tumbuhan di sekitar ekosistem yang terganggu.
  3. Kecepatan pemencaran biji atau benih dalam ekosistem tersebut.
  4. Iklim, terutama arah dan kecepatan angin yang membawa biji, spora. dan benih lain serta curah hujan yang sangat berpengaruh dalam proses perkecambahan.
  5. Kompetisi dan pemangsaan. Pemangsa dapat mengurangi kepadatan spesies yang dimakannya dengan cepat.
  6. Jenis substrat baru yang terbentuk.
  7. Iklim, terutama arah dan kecepatan angin yang membantu penyebaran biji, sporam dan benih serta curah hujan.
  8. Sifat – sifat jenis tumbuhan

 

 

 

  1. Proses Suksesi
  2. Tahapan-Tahapan Terbentuknya Suksesi
  3. E Clements mencetuskan konsep suksesi dan melanjutkannya hingga konsep ekologi. Sejak tahun 1905 Clements sudah menulis buku teks ekologi yang menerangkan tentang metoda pengukuran dan pemasangan kuadrat dalam kajian ekologi lapangan. Menurutnya, proses suksesi dapat terjadi melalui 6 tahap, yaitu sebagai berikut :
  4. Nudasi

Fase ini adalah fase awal dari proses suksesi yaitu dimana baru terjadi  pertumbuhan pada lahan yang masih kosong atau lahan yang baru saja mengalami perubahan atau gangguan baik alami mauun hasil buatan manusia.

  1. Migrasi

Fase ini ditandai dengan hadirnya biji-bijian dari tumbuhan spora maupun cikal bakal lainnya yang akan menjadi tumbuhan baru pada tempat tersebut.

  1. Eksesis

Fase ini yaitu merupakan fase proses kemantapan dari biji-bijian atau spora yang tumbuh di tempat terjadinya suksesi. Pembentukan dan pertumbuhan awal tumbuhan tejadi pada fase ini misalnya proses perkecambahan, pertumbuhan dan reproduksi.

  1. Kompetisi

Karena tumbuhan-tumbuhan yang muncul mulai menjadi stabil, tumbuh dan menyebar, berbagai jenis tumbuhan tersebut mulai bersaing untuk memperebutkan ruang, cahaya dan nutrisi. Fase ini sangat berpengaruh pada keadaan habitat setempat.

  1. Reaksi

Selama fase ini perubahan autogenik mempengaruhi keadaan habitat setempat dan mengakibatkan penggantian oleh satu komunitas tumbuhan oleh tumbuhan lain.

 

  1. Stabilisasi

Reaksi fase mengarah ke pengembangan komunitas klimaks.

 

  1. Perubahan yang terjadi selama proses suksesi

Selama suksesi berlangsung, banyak hal yang berubah, diantaranya yaitu:

  1. Perkembangan sifat substrat/tanah
  2. Pertambahan kepadatan komunitas
  3. Peningkatan pemanfaatan SDL
  4. Perubahan iklim mikro
  5. Komunitas menjadi lebih kompleks

 

  1. Konsep Klimaks

Suksesi yang menempati habitat utama disebut Sere. Sedangkan variasi yang terjadi diantaranya disebut Seral. Komunitas yang timbul pada susunan itu disebut Komunitas Seral. Biasanya komunitas seral itu tidak tampak dengan jelas, mereka kenal hanya karena beberapa spesies tanaman dominan tumbuh diantaranya. Tumbuhan pertama yang tumbuh di habitat yang kosong disebut Spesies Pioner. Lazimnya suksesi tanaman tidak menunjukkan suatu seri tingkat-tingkat atau tahap-tahap tetapi terus menerus dan merupakan pergantian yang lambat dan kompleks.

Gambar 4. Lichenes merupakan Salah Satu Jenis Tumbuhan Pioner

Penempatan individu tumbuhan ini individu per individu, dan tidak merupakan loncatan-loncatan dari suatu komunitas dominan ke komunitas dominan yang lain. Spesies dominan dari suatu komunitas akan tetap stabil dalam jangka waktu yang lama. Kemudian akan bercampur dengan tumbuhan baru. Tumbuhan baru ini mungkin menggantikan tumbuhan yang telah ada tetapi mungkin juga tidak (bila komunitas yang baru itu tidak menghendaki kondisi yang diciptakan menjadi dominan terutama dari segi kondisi pencahayaan).

Jika habitat menjadi ekstrem tidak memenuhi syarat untuk tumbuhnya tanaman-tanaman maka timbul tanaman dari komunitas berikutnya yang sesuai dengan lingkungan yang baru, kemudian tanaman ini menjadi dominan. Setelah beberapa kali mengalami pergantian semacam itu, suatu saat habitat akan terisi oleh spesies-spesies yang sesuai dan mampu bereproduksi dengan baik. Sehingga proses ini mencapai Komunitas Klimaks yang matang, dominan, dapat memelihara dirinya sendiri dan selanjutnya bila ada pergantian, maka pergantian itu relatif sangat lambat.

Di dalam kondisi klimaks ini spesies-spesies itu dapat mengatur dirinya sendiri dan dapat mengolah habitat sedemikian rupa sehingga cenderung untuk melawan inovasi baru. Di dalam konsep klimaks ini Clements berpendapat:

  1. Suksesi dimulai dari kondisi lingkungan yang berbeda, tetapi akhirnya punya klimaks yang sama.
  2. Klimaks hanya dapat dicapai dengan kondisi iklim tertentu, sehingga klimaks dengan iklim itu saling berhubungan. Dan kemudian klimaks ini disebut klimaks klimatik.
  3. Setiap kelompok tumbuhan masing-masing mempunyai klimaks.

Karena iklim sendiri menentukan pembentukan klimaks maka dapat dikatakan bahwa klimaks klimatik dicapai pada saat kondisi fisik di sub stratum tidak begitu ekstrem untuk mengadakan perubahan terhadap kebiasaan iklim di suatu wilayah. Kadang-kadang klimaks dimodifikasi begitu besar oleh kondisi fisik tanah seperti topografi dan kandungan air. Klimaks seperti ini disebut klimaks edafik. Secara relatif tumbuhan dapat mencapai kestabilan lain dari klimatik atau klimaks yang sebenarnya di suatu wilayah. Hal ini disebabkan adanya tanah habitat yang mempunyai karakteristik yang tersendiri.

Adakalanya tumbuhan terhalang untuk mencapai klimaks, oleh karena beberapa faktor selain iklim. Misalnya adanya penebangan, dipakai untuk penggembalaan hewan, tergenang dan lain-lain. Dengan demikian tumbuhan dalam tahap perkembangan yang tidak sempurna (tahap sebelum klimaks yang sebenarnya) baik oleh faktor alam atau buatan. Keadaan ini disebut sub klimaks. Komunitas tanaman sub klimaks akan cenderung untuk mencapai klimaks sebenarnya jika faktor-faktor penghalang/penghambat dihilangkan.

Gangguan dapat menyebabkan modifikasi klimaks yang sebenarnya dan ini menyebabkan terbentuknya sub klimaks yang berubah (termodifikasi). Keadaan seperti ini disebut disklimaks. Sebagai contoh tumbuhan terbakar menyebabkan tumbuh dan berkembangnya tumbuhan yang sesuai dengan tanah bekas terbakar tersebut. Odum (1961) mengistilahkan klimaks tersebut dengan pyrix klimaks. Tumbuh-tumbuhan yang dominan pada pyrix klimaks antara lain: Melastoma polyanthum, Melaleuca leucadendron dan Macaranga sp.

Gambar 5. Melastoma polyanthum

Jika pergantian iklim secara temporer menghentikan perkembangan tumbuhan sebelum mencapai klimaks yang diharapkan disebut pra klimaks (pre klimaks).

Berhubungan dengan berbagai klimaks maka terdapat kekaburan arti klimaks. Oleh karena terjadi ketidak sepakatan kemudian berkembang tiga teori klimaks dengan argumentasi masing-masing.

  1. Teori monoklimaks

Teori ini dipelopori oleh Clements yang menyatakan bahwa teori klimaks berkembang dan terjadi hanya satu kali. Hal ini merupakan klimaks klimatik di suatu wilayah iklim utama.

  1. Teori poliklimaks

Klimaks merupakan keadaan komunitas yang stabil dan mandiri sehingga pada suatu habitat dapat terjadi sejumlah klimaks karena kondisi atau iklim yang berbeda.

  1. Teori informasi

Teori ini dikemukakan oleh Odum dan merupakan teori sebagai jalan tengah antara teori mooklimaks dan teori poliklimaks.

 

Suatu keadaan klimaks di suksesi memiliki karakter sebagai berikut:

  1. Tumbuhannya toleran terhadap kondisi lingkungan
  2. Memiliki keberagaman spesies yang besar dan rantai makanan yang kompleks
  3. Ekosistem klimaks seimbang. Ada keseimbangan antara energi yang digunakan dari sinar matahpari dan energi yang dilepaskan oleh dekomposisi, antara peneyerapan nutrisi dari tanah dan kembalinya nutrisi ke tanah.
  4. Sebagai penanda indeks iklim lokal. Bentuk kehidupan atau pertumbuhan menunjukkan jenis iklim.

 

Gambar 6. Hutan Merupakan Komunitas Klimaks dari Tumbuhan

 

  1. Macam dan Dampak Suksesi
  2. Macam Suksesi

Berdasarkan kondisi habitat pada awal proses suksesi, suksesi dibedakan menjadi dua macam yaitu:

  1. Suksesi Primer

Perubahan komposisi dan struktur komunitas adalah yang paling jelas terlihat setelah beberapa ganggguan, seperti kebakaran besar atau ledakan gunung berapi menyebabkan hilangnya tumbuhan yang ada dan hanya meninggalkan lahan yang kosong. Daerah yang terganggu itu bisa dikolonisasi oleh berbagai varietas spesies, yang secara perlahan-lahan digantikan oleh suatu suksesi spesies yang lain. Proses itu disebut suksesi primer (primary succession).

Gambar 7. Suksesi Primer pada Pulau Anak Krakatau

 

  1. Suksesi Sekunder

Suksesi yang terjadi pada habitat yang pernah ditumbuhi tumbuhan kemudian mengalami gangguan, tetapi gangguan tersebut tidak merusak total organisme sehingga dalam komunitas tersebut, substrat lama dan kehidupan masih ada. Perbedaan suksesi sekunder dan primer terletak pada kondisi habitat awal. Proses kerusakan komunitas disebut denudasi. Denudasi dapat disebabkan oleh api, pengolahan, angin kencang, hujan, gelombang laut dan penebangan hutan. Sebagai contoh, daerah hutan yang telah ditebang dan dibersihkan untuk pertanian, jika ditinggalkan akan mengalami suksesi sekunder dan akhirnya bisa kembali bisa menjadi hutan.

Gambar 8.  Tahap Suksesi Sekunder

Dari gambar di atas dapat dijelaskan tahap-tahapan suksesi sekunder sebagai berikut:

  • Sebuah hutan yang stabil
  • Adanya gangguan, yaitu kebakaran menghancurkan hutan tersebut.
  • Api membakar hutan hingga hanya menyisakan tanah
  • Tanah bekas kebakaran hutan menjadi kosong
  • Rumput dan tanaman herba lainnya tumbuh sebagai tumbuhan perintis
  • Semak-semak dan pohon kecil mulai menggantikan keberadaan rumput dan tanaman
  • Pohon cemara tumbuh dengan cepat memenuhi hutan.
  • Pohon-pohon cemara tumbuh semakin besar dan semak-semak memenuhi hutan dan keadaan ini hampir sama dengan keadaan hutan sebelum terbakar.

 

p

Gambar 9.  Suksesi Sekunder Karena Penebangan Hutan

 

  1. Dampak Suksesi

Suksesi memiliki dampak negatif dan positif dari suksesi, yaitu sebagai berikut:

  1. Dampak Negatif :
  • Berbagai tumbuhan liar akan hidup atau tumbuh dan mengubah semua karakteristika dari tumbuhan asalnya.
  • Penurunan kadar zat hara dari tanah, misalnya akibat degradasi habitat.
  • Suatu komunitas tumbuhan akibat adanya longsor, banjir, letusan gunung berapi dan atau pengaruh kegiatan manusia akan mengalami gangguan atau kerusakan yang parah. Mengakibatkan tanah gersang, kehilangan nutrisi organik, permukaan sangat terbuka dan kondisinya belum menunjang kehidupan di atasnya.
  1. Dampak Positif
  • Terjadinya suksesi proses perubahan ekosistem dalam kurun waktu tertentu menuju ke arah lingkungan yang lebih teratur dan stabil, Komunitas menjadi lebih kompleks.
  • Bagi Tumbuhan pioner, tumbuhan ini akan menciptakan kondisi lingkungan tertentu yang memberikan kemungkinan untuk hidup tumbuhan lainnya. Koloni tumbuhan pionir ini akan menghasilkan proses pembentukan lapisan tanah memecah batuan dengan akarnya dan membebaskan materi organic ketika terjadi pelapukan dari tumbuhan yang mati.

Yang Tersingkir

Sepasang kakek nenek itu membungkuk-bungkuk berjalan di tepian

Perutnya mungkin kosong tanpa sesuap nasi tadi pagi

Matanya sayu, pikirannya mencari-cari

Kemana anak-anaknya, tega membuangnya

Kemana cucu-cucunya, tega menelantarkannya

Dia yang sudah serenta itu, ditinggal dalam sebuah ketidakberdayaan

Tuhan, kembalikan senyum mudanya dulu

Keberadaanmu adalah sandar bagi mereka

 

BAHAYA MINYAK JELANTAH BAGI KESEHATAN

Gorengan merupakan salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Data Susenas modul konsumsi 2002 menyebutkan gorengan dipilih oleh hampir separuh rumah  tangga di Indonesia (49%).  Jajanan lain yang disukai di Indonesia adalah mie (bakso/rebus/goreng) (45%) serta makanan ringan anak (39%) (Suleeman dan Sulastri, 2006). Makanan jajanan yang sehat, aman, dan bergizi adalah makanan yang halal, mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, disajikan dalam wadah atau kemasan tertutup, tidak mengandung bahan tambahan makanan yang berbahaya dan atau dalam jumlah yang berlebihan serta tidak basi, atau rusak secara fisik  (Sari, 2003).

Pada dasarnya, konsumen berkecenderungan untuk mendapatkan jumlah makanan sebanyak-banyaknya dengan harga serendah mungkin. Agar supaya dapat menjual makanan jajanan yang mereka buat, para penjual harus dapat memenuhi kebutuhan para pembeli atau konsumen. Sebaliknya, penjual harus mendapat keuntungan yang cukup, bila mereka ingin berjualan dan menghidupi keluarganya (Fauziah dkk, 2013: 2). Seringkali mereka menggunakan minyak bekas pakai yang seharusnya tidak digunakan lagi untuk menggoreng. Minyak tersebut sering disebut dengan minyak jelantah.

Minyak jelantah membuat cita rasa gorengan menjadi kurang enak karena sudah mengalami pengulangan penggorengan beberapa kali. Hal tersebut dikarenakan munculnya senyawa baru akibat dari serangkaian reaksi, diantaranya yaitu oksidasi, hidrolisis dan pirolisis. Senyawa berbahaya dalam minyak jelantah ini memiliki kecenderungan untuk menurunkan kualitas kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih.

Berbagai penyakit muncul seiring penggunaan minyak jelantah misalnya penyakit jantung koroner (PJK) sebagai silent killer nomor satu dunia (Rahardjo, 2004: 10).  Berbagai profesi di bidang kesehatan dan gizi selama decade terakhir ini makin gencar mengeluarkan anjuran ke pada masyarakan untuk mengurangi konsumsi lemak dan kolesterol agar terhindar dari PJK (Rahardjo, 2004: 10).

 

  1. Pengertian Minyak Jelantah

Lemak adalah salah satu zat gizi yang penting bagi tubuh. Berdasarkan wujudnya lemak mempunyai wujud cair dan padat. Wujud padat dan cairnya lemak dipengaruhi oleh tingkat kejenuhan asam lemak di dalamnya. Lemak yang kandungan asam lemak tak jenuhnya tinggi akan berwujud cair pada suhu kamar dan biasanya disebut sebagai minyak sedangkan yang kandungannya adalah asam lemak jenuh akan berbentuk padat (Edwar dkk, 2011: 249).

Minyak goreng dari tumbuh-tumbuhan yang telah digunakan atau bekas pakai selanjutnya disebut dengan minyak jelantah (waste cooking oil) (Putra dkk, 2012: 585). Definisi lain dari minyak jelantah adalah minyak yang mengalami dekomposisi asam lemak yang pada batas tertentu yang mengakibatkan minyak menjadi tidak layak lagi digunakan. Minyak jelantah didapatkan dari proses memasak atau memanaskan makanan menggunakan minyak dalam jumlah banyak, berulang dan suhu yang tinggi.

Gambar 1.

Minyak Baru dan Minyak Jelantah (Wasted Cooking Oil)

Continue reading

Belajar Bahasa Inggris, TOEFL Preparation Guide

Banyak yang harus digali jika kita ingin maju. Globalisasi menuntut kita menjadi dewan perubahan, tidak hanya untuk Negara tapi juga dunia. Tidak heran kompetisi saling mengisi jabatan dan posisi apapun itu, kini mempersyaratkan kita terampil dan cakap berbahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Banyak trik dan tips mempelajari bahasa luar yang tampaknya susah tersebut. Hanya dibutuhkan minat dan kemauan yang tinggi agar target belajar foreign Languange ini mudah kita lakukan. Kalau hal itu tidak ada, pasti menjalankan hal apapun itu tidak akan semulus dan selancar yang diharapkan. Gunakan waktumu seefektif mungkin untuk mengupgrade kemampuanmu.

Oke, langsung saja kita beranjak ke sesi belajar. TOEFL merupakan singkatan dari Test of English as a Foreign Languange, Continue reading